Jelajah Desa

Instrument besar Jelajah Desa akan menjadi hormoni indah jika dilaksanakan dengan keteguhan dan kemapanan jiwa. Harapan kebangkitan rakyat kecil yang digantungkan dalamnya akan segera terwujud dengan hadirnya jiwa-jiwa kesatria. Dari memulai titik awal yang kecil untuk merajut titik yang besar yakni kejayaan bangsa Indonesia Raya.

“Rakyat berhak atas penghidupan yang layak” tertera di dalam UUD 1945 Pasal 27 ayat 2.

Kendaraan antar jemput bagi masyarakat miskin yang membutuhkan menjadi kabar gembira bagi mereka yang selama ini tak berani berobat ke rumah sakit ketika sakit.

Sebagian besar dusun terpencil yang kami jelajahi ternyata adalah kawasan tempat pejuang kebangsaan dahulu berada. Ketabahan rakyat kecil di dusun terpencil memang sangat mengagumkan, meski sepenggal kisah melegenda tentang sesepuh mereka yang notabene adalah pejuang kemerdekaan, tapi nilai historis itu justru kini terlupakan. Tidak dijadikan perhatian dan prioritas dari segi pembangunan oleh pemerintah setempat, khususnya akses jalan menuju dusun.

Salah letak keliru pasang dari fungsi pejabat negara yang seharusnya menjadi pelayan rakyat terbukti dari kesenjangan yang merajarela dan dari sangat banyaknya desa yang terisolir di Indonesia. Dari jangkauan Program Opshid Jelajah Desa untuk Indonesia Raya, kami mendapati buruknya Infrastuktur desa yang tidak mendapat perhatian meskipun sudah berulang kali permohonan diajukan penduduk dan berkali-kali juga janji diberikan oleh pemerintah setempat.

Di lereng gunung Arjuno dan Semeru, semua penduduk desa terpencil tidak memiliki hak atas lahan yang digarap, bahkan tak juga berhak atas tanah yang didiaminya. Turun-menurun, sampai kapan? Opshid memberi jawaban.