Sumpah Pemuda

Untuk menjadi bangsa yang besar kita harus mengenal pemikiran orang-orang yang besar, dan tidak diragukan lagi kita memiliki orang-orang besar yang reputasinya diakui oleh dunia pada zamanya. Dialah para penghuni belahan bumi pertiwi ini yang hidup dimasa lalu, yang membentuk kultur masyarakat yang luhur dipersada nusantara ini.

Sejarah menyatakan kebesarannya dalam bentuk Kedatuan Sriwijaya dan Keprabuan Majapahit yang mampu menyatukan kebinekaan suku, bahasa, adat, dan budaya dikepulauan Nusantara, yang tidak kurang dari 13.600 pulau yang bentangnya melampaui bentang benua Eropa, Australia, dan Amerika. Apabila kita perbandingkan bentang kepulauan Indonesia melampaui bentang benua Eropa dari London hingga Moskow, melampaui bentang benua Amerika dari Los Angeles hingga New York, dan melampaui bentang benua Australia dari Perth hingga Sidney, sebagaimana dalam peta dibawah ini, kita akan lebih mengerti betapa sulitnya membentuk Nasionalisme Indonesia.

Pembentukan nasionalisme seperti di Indonesia ini sudah barang tentu jauh lebih sulit dibanding negara lain seperti Amerika yang mayoritas bukan penduduk asli dimana rasa kepemilikan atas wilayahnya belum begitu kental hingga lebih mudah untuk disatukan, atau Norwegia yang wilayahnya merupakan sebuah daratan, tanpa terpisah-pisahkan oleh lautan, ataupun negara besar manapun dibumi ini. Mengingat Indonesia sebagai Negara multi etnis dengan kepulauan yang terpisah-pisah oleh lautan luas yang terbentang dari ujung barat sampai timur. Namun begitu cerdas dan visionernya para pendahulu bangsa ini sehingga dalam kondisi yang serba sulitpun mereka mampu membuat kerangka acuan (term of reference) kepada generasi berikutnya untuk membangun dan menegakan sebuah peradaban dibumi pertiwi. Peradaban artinya adalah prilaku yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Untuk mengetahui kesesuainya dengan kehendak Tuhan manusia hanya dapat melalui petunjukNya, petunjuk yang hanya disampaikan melalui para kekasih Tuhan yakni para utusan Tuhan (messenger), sehingga perilakunya sesuai dengan keinginan Tuhan yang dalam istilah Jawa disebutkan Manunggaling kawulo lan Gusti. Peradaban manusia atau The human civilization berarti sebuah implementasi kesatuan kehendak Tuhan dan Ihtiyar manusia itu sendiri, Keinginan Tuhan ini diwujudkan oleh Manusia dalam perilakunya melalui olah Cipta, Rasa, dan Karsa. Inilah hakekat kebudayaan, jadi bukan hanya perilaku yang diperoleh dari olah daya cipta manusia saja (Intelektual Exercise) saja, namun harus sesuai dengan kehendak (keinginan) Tuhan.

Berbahagialah bangsa Indonesia memiliki sebuah generasi berperadaban yang dikehendaki Tuhan, sehingga melalui olah cipta, rasa, dan karsa mereka terlahir sebuah momentum yang menentukan hidupnya peradaban di kepulauan Indonesia ini. Tahun 1928 merupakan tahun istimewa bagi Bangsa Indonesia, karena di tahun tersebut di tempat dan waktu yang sama, lahirlah 2 hal besar yang merupakan batu pertama dari bangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), 2 hal yang akan menjadi modal penting bagi kejelasan arah perjuangan Kemerdekaan Indonesia yang sudah berlangsung lebih dari 300 tahun tersebut, bertempat di gedung Indonesisch Clubhuis (IC) Jalan Kramat Raya 106 Jakarta (Waltervreden), pada tanggal 28 Oktober 1928, melalui momen kongres Pemuda kedua yang diprakasai oleh Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI) dan diikuti oleh perwakilan organisasi besar kepemudaaan zaman itu, sepertii: Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Bataks Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Sumatranen Bond, Pemuda Kaum Betawi, Pemuda Indonesia, dll. Lahirlah Sumpah Pemuda yang menjadi inspirasi terbesar bagi terbentuknya Persatuan Indonesia dan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya yang merupakan spirit agung bagi bangsa Indonesia.

Sumpah Pemuda merupakan ikrar bersama dari para Pemuda Bangsa yang pada waktu itu memang masih terkotak-kotak dalam berbagai organisasi kepemudaan berbasis kedaerahan, agama, ras dan profesi sebagai salah satu imbas dari taktik devide et Impera yang diterapkan Belanda untuk melemahkan perlawanan pejuang-pejuang Kemerdekaan Indonesia, memang dengan perlawanan yang sporadis dan terpecah-pecah seperti itu perjuangan Kemerdekaan Indonesia akan sangat mudah dipatahkan, dan tidak akan menuai hasil seperti yang diharapkan. Kala itu kongres Pemuda Kedua menghasilkan keputusan : Pertama : KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH INDONESIA. Kedua : KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA. Ketiga : KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENDJOENJOENG BAHASA PERSATOEN, BAHASA INDONESIA. Tiga poin yang selanjutnya dikenal sebagai Sumpah Pemuda inilah yang kemudian mampu mempersatukan lebih dari 17 ribu pulau, terangkum menjadi satu : Tanah Air Indonesia, bisa mempersatukan lebih dari 300 suku bangsa, terpuntal menjadi satu : Bangsa Indonesia, sanggup mempersatukan 67 lebih bahasa daerah, terkumpul menjadi satu : Bahasa Indonesia. Inilah satu keajaiban besar yang diberikan Alloh Ta’ala kepada Bangsa Indonesia melalui peristiwa Sumpah Pemuda yang bersejarah, yang mungkin tak akan mampu ditandingi oleh bangsa dan negara manapun keajaibannya. Lebih ajaib lagi, Ikrar Persatuan tersebut dikumandangkan para Pemuda Indonesia pada saat bangsa Indonesia masih didalam belenggu penjajahan Belanda yang dikenal sangat represif (keras) terhadap gerakan-gerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Dengan perjuangan yang dilandasi rasa Persatuan dan kesamaan tujuan serta dijiwai spirit Lagu Kebangsaan Indonesia raya, akhirnya berselang 17 tahun dari peristiwa Sumpah Pemuda, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945, Atas Berkat Rohmat Alloh yang Maha Kuasa Bangsa Indonesia benar-benar mencapai kemerdekaan yang dicita-citakannya. Kemerdekaan adalah nikmat asas (dasar) bagi bangsa Indonesia, tanpa kemerdekaan maka tidak akan ada bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tanpa ada NKRI maka tidak akan ada presiden dan wakil presiden Republik Indonesia, tidak akan ada Dasar Negara Pancasila, tidak akan ada lambang Negara Garuda Pancasila, tidak akan ada Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945 (UUD 45) tidak akan ada proses pendidikan untuk rakyat mulai SD hingga Perguruan Tinggi, tidak akan ada pembangunan infrastruktur rakyat, seperti rumah sakit, jalan, jembatan, pasar. Hingga mungkin kita tidak akan bisa beribadah dan bekerja dengan nyaman seperti sekarang ini. Semua itu jikalau tidak ada nikmat Kemerdekaan tahun 1945. Inilah diantara alasan betapa penting dan menentukannya peran Sumpah Pemuda bagi Sejarah Bangsa Indonesia, khususnya sejarah Kemerdekaan Bangsa Indonesia, sejarah tentang bagaimana upaya segenap anak Bangsa untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan hingga berhasil meraih kemerdekaan yang diidam-idamkan.