Smart Home untuk Kaum Miskin

Semangat Opshid memperhatikan kaum miskin yang belum memiliki rumah layak makin mengejutkan. Betapa tidak, bila selama ini kaum miskin dibangunkan rumah secara gratis dan tergolong mewah di kelasnya, kini Opshid berencana membangunkan rumah berkelas smart home. Telinga sebagian besar masyarakat Indonesia mungkin belum pernah mendengar istilah tersebut. Bangunan ini juga belum ada di kalangan Shiddiqiyyah  namun Opshid telah merancangnya untuk diberikan pada kaum miskin.  
Smart home atau rumah pintar adalah tekhnologi canggih yang diterapkan pada suatu hunian, dimana pemilik rumah dapat mengatur semua bagian di rumahnya dengan menggunakan sistem yang terintegrasi ke smartphone atau gadget lainnya. Rumah pintar ini kebanyakan kita jumpai di apartemen atau hotel mewah. 
Dengan Berkat Rohmat Alloh, layanan kemudahan gaya hidup ini akan diwujudkan Opshid untuk golongan rakyat miskin dalam rangka mensyukuri kemerdekaan bangsa Indonesia dan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia tahun ini.
Melihat fungsi smart home, dimana rumah dibangun dengan seperangkat sistem otomatis yang didesain untuk dapat mengontrol berbagai macam panel yang dibutuhkan, sekilas terkesan terlalu mewah. Tapi jika melihat visinya cukup sepadan.
Ketua umum Opshid Moch. Subchi Azal menuturkan smart home dibuat dan dipersembahkan untuk rakyat miskin, bertujuan mempraktekkan alinea ke-IV yaitu; mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena besarnya sebuah peradaban itu salah satunya bisa dilihat dari sisi kemapanan hunian bangsa. Karena di smart home termasuk menyediakan computer tanam yang terkoneksi dengan internet. Misalnya para fakir miskin membutuhkan sesuatu, telah disediakan pada sebuah website dan mereka tinggal ketik. Website itu nantinya juga dilengkapi berbagai informasi yang dibutuhkan. 
Membangun dari titik awal, membangkitkan kecerdasan, mengelola aktivitas ekonomi, mereka bisa memiliki gambaran yang cocok bagi mereka. Misalnya ternak ayam senilai sekian, dengan cara demikian, nanti dijual dimana, mereka langsung terhubung.  
Dalam konsep smart homeini para penerima juga akan mendapat pembelajaran, tutorial dari buku, gambar atau video untuk menggunakan tekhnologi yang ada di rumahnya, apa yang dibutuhkan berikut carannya. Mendorong mereka untuk belajar yang akan mencerdaskan kehidupan mereka.
Lebih lanjut dijelaskan peningkatan tarap hidup kaum dhuafa tidak serta merta dengan memberikan modal uang. Sebab dengan uang saja mereka belum tentu bisa mengelolanya. Berbeda jika mereka diberi bangunan yang menyentuh pada kecerdasan mereka. Ibaratnya seperti memasang slot pada sendi kehidupan mereka. Memberi bantuan dalam bentuk uang saja ibarat memberi kabel tanpa slot generator listrik. 
Smart home seperti home school yang menjadi alternatif untuk melaksanakan alinea ke-IV pembukaan UUD 1945 dengan masif, dari akar, memapankan yang belum mapan. Yang ada sekarang ini pemerintah memapankan yang sudah mapan. Fasilitas ekonomi, sistem ekonomi dibangun untuk yang sudah mapan, sedangkan yang belum mapan tidak bisa memanfaatkan. Bagaimana cara memanfaatkan tidak ada pembelajaran. 
Mas Bechi menilai, kenyataan yang ada sekarang ini, kalau rakyat ingin cerdas harus sekolah, tapi untuk sekolah harus membayar dan untuk itu sebagian besar tidak mampu.  Kalau rakyatnya tidak sekolah dan tidak cerdas siapa yang mengurusi? Bangsa Indonesia sendiri tidak boleh membiarkan keadaan seperti itu. Ketika pemerintah tidak mampu, maka rakyat harus semaksimal mungkin menangani. Mestinya ada alternatif home schooling bukan formal schooling saja. Ketika rakyat secara ekonomi tidak mampu bersekolah harus ada cara lain untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang tidak berhenti pada formalitas sekolah.
Karenanya Opshid mengambil langkah secara fakta bicara yang diharapkan dapat mengena pada arti sebuah kemapanan kualitas hidup beserta mencerdaskan kehidupan bangsa.
Dari kalimat mencerdaskan kehidupan bangsa, di situ ada kalimat; “…dan ikut melaksanakan ketertiban dunia, perdamaian abadi dan keadilan sosial”. Kalau orang disadarkan dari titik itu, maka mereka akan bisa membangun standar pembangunan jiwa yang memiliki akurasi yang bagus. Jadi langkah-langkah itu adalah pengejawantahan alinea ke empat Undang-undang Dasar 1945. Kita sudah sholat, sudah syukur dari alinea ke tiga, maka bentuk, buah, wujud dari alinea ketiga ada di alinea keempat dengan mencerdaskan kehidupan bangsa. Setelah bangun jiwa maka akalnya dicerdaskan.
Mas Bechi berharap ketika bangsa Indonesia di kalangan rakyat bawah pun sudah bisa memiliki smart home itu merupakan sebuah pemerataan, dimana rakyat paling bawah bisa menikmati adanya tekhnologi yang bisa membantu kehidupan mereka. Smart home biasanya dinikmati di hotel-hotel dan di apartemen mewah, maka jika kita mewujudkan smart home untuk rakyat bawah, dengan sendirinya tidak ada atau dapat memangkas kesenjangan antara kaya dan miskin. 
Saat ini negara maju seperti Eropa sudah menggunakan smart home, di Indonesia sendiri rumah dengan konsep smart home ini masih terhitung baru. Hanya dinikmati kalangan kaya-raya. Sedangkan rakyat miskin jauh tertinggal. Maka smart home ini akan meletakkan sebuah kemapanan untuk satu hal yang memang belum mapan, hal itu menjadi doa yang besar, yang diwujudkan secara nyata. Melihat rakyat bawah punya layanan smart home, ibaratnya mereka menapaki semangat hidup lebih dari 50 persen untuk menyambung kehidupan selanjutnya. Kemapanan hunian, bukan sekedar standar hunian tapi fakir miskin benar-benar merasakan kenikmatan menjadi orang yang mapan.
Jadi membangunkan smart home untuk fakir miskin sama halnya berdoa memohon Indonesia Raya segera terwujud dari doa yang diterapkan secara fakta.