Rilis Media Tasyakuran Sumpah Pemuda ke-86 dan Tahun Baru Hijriyyah 1436 di Kabupaten Tuban - Pati

SUBHANALLOH ALHAMDULILLAH ASTAGHFIRULLOH
ATAS BERKAT ROHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
 
ORGANISASI PEMUDA SHIDDIQIYYAH BANGUN MONUMEN SUMPAH PEMUDA
Hari Sumpah Pemuda, hari yang sangat bersejarah sebagai tonggak kebangkitan nasional yang melahirkan kemerdekaan bangsa Indonesia, pada peringatan ke-86 tahun 2014 ini bakal ditasyakuri secara besar-besaran oleh Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID) se-Indonesia dengan cara membangun monumen-monumen Sumpah Pemuda yang cukup fenomenal di berbagai daerah.
Proses pembangunan monumen ini diperkirakan melibatkan 1000 lebih pemuda-pemudi dari 50 kabupaten/kota di Indonesia. Dari segenap panitia, peserta pelaksana pembangunan, juru masak, arsitek hingga seniman.
Model bangunan monumen cukup unik, tapi sarat akan makna dan manfaat, tidak seperti umumnya monumen yang kita kenal selama ini. Bukan berbentuk patung, menara, gapuro, teks sejarah atau simbol-simbol lainnya yang hanya dipajang saja. Monunen Sumpah Pemuda ini didesain berwujud Rumah Layak Huni Shiddiqiyyah (RLHS). Dengan luas rata-rata 5×7 meter, berdinding beton bertulang, berlantai keramik, dihiasi ornamen-ornamen yang artistik, dilengkapi dengan tiga kamar tidur, ruang tamu, ruang keluarga, dapur dan kamar mandi. Maka terwujudlah sebuah monumen yang tak hanya sedap dipandang mata, tapi juga berfungsi sebagai tempat tinggal yang dipersembahkan bagi saudara-saudara dhu’afa (rakyat miskin). Monumen Sumpah Pemuda seperti ini tentu cukup langka, apalagi akan dibangun hingga ratusan jumlahnya dan tersebar di berbagai penjuru Nusantara.
Berbeda dengan yang berlaku pada umumnya, jika kita sering melihat di media massa pada peringatan Hari Sumpah Pemuda, berbagai organisasi kepemudaan ramai-ramai menggelar demonstrasi, tuntutan demi tuntutan, atau hanya sekedar peringatan formalitas saja, maka Organisasi Pemuda Shididiqiyyah se-Indonesia justru sibuk mengabdi kepada ibu pertiwi.
Sejatinya pembangunan monumen Sumpah Pemuda ini sudah diawali sejak tahun 2010 lalu. Dan semua proses berjalan atas petunjuk Almukarrom Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah selaku Guru Besar OPSHID. Kini sudah berdiri sejumlah lebih dari 100 monumen yang tersebar di 30 kabupaten/kota se-Indonesia.
Pada pelaksaanaan tahun 2014 ini, Monumen Sumpah Pemuda dibangun di Kabupaten Tuban sejumlah 10 monumen, di Kabupaten Pati sejumlah 15 monumen, dan di Kabupaten Demak sejumlah 15 monumen, Sehingga total pelaksanaan pada tahun 2014 ini adalah sejumlah 40 monumen
Biaya pembangunan monumen ini, yang pada tahun 2014 ini ada 40 monumen yang akan dibangun,  mencapai lebih dari 2.5 Milyar, murni dari dan oleh Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah dan Warga Shiddiqiyyah, dengan dana, tangan dan keringat sendiri tanpa meminta bantuan dari pihak manapun, termasuk pemerintah.
Jika setiap tahun pada hari Sumpah Pemuda OPSHID berhasil membangun puluhan monumen Sumpah Pemuda yang berupa Rumah Layak Huni Shiddiqiyyah (RLHS), maka puluhan tahun kemudian pasti akan berdiri ribuan monumen Sumpah Pemuda. Hal ini tentu akan menjadi kemanfaatan yang lestari sekaligus kenangan abadi. Inilah wujud syukur atas cinta tanah air Indonesia yang utuh dari Organisasi Pemuda Shididiqiyyah dalam konsep manunggalnya keimanan dan kemanusiaan di Hari Sumpah Pemuda.
PEMBANGUNAN TAHAP PERTAMA 10 RLHS DI KABUPATEN TUBAN DAN 10 RLHS DI KABUPATEN PATI
Terik matahari menyengat di atas kepala, ketika Zainun mengaduk luluh semen. Sesaat, dia menghentikan aktivitasnya, dan menyeka keringat. Lalu, beranjak ke bawah pohon mangga. Menenggak segelas teh, sembari mengamati rekan-rekannya yang berjibaku membangun rumah.
Capek? Zainun hanya tersenyum, menggelengkan kepala. Rasa lelah kalah oleh ‘keajaiban’ rasa senang, telah bermanfaat bagi orang lain. Kerja keras bapak yang sudah anak satu ini membangun rumah ini bukanlah untuk mendapatkan uang, namun kerja social untuk orang lain sekalipun juga belum memiliki rumah sendiri. Sudah sepekan, dia merehab rumah milik warga di desa Ngadipuro, Kecamatan Widang Kabupaten Tuban, Jawa Timur.
Begitu juga ‘kuli bangunan’ dadakan lainnya. Puluhan muda-mudi ini berasal dari berbagai daerah dan latar belakang yang berbeda. Mulai dari karyawan, petani, buruh, tukang sayur bahkan mantan  preman dan pemakai narkoba. Namun ada juga wiraswasta, guru,pelajar, seniman juga  musisi. Mereka berkumpul bersama untuk mencari rumah-rumah bobrok lantas dibongkar total dan diganti rumah yang baru.Uniknya sekalipun berbeda latar belakang mereka bisa bersatu tanpamembeda-bedakan dalam bekerjasama tujuan kemanusiaan dalam nilai kebangsaan.
“Sebelum bershillaturrohmi kepada penerima rumah, kita mengadakan pemberitahuan dahulu ke pihak desa,” kata Alhalaj Muhyiddin, Ketua Tim Kulonuwun. Tim datang bersama rombongan sekitar 15 pernonil.
Kasmiati 31 tahun, salah satu penerimah rumah di Rt.03/Rw.06, Ds. Waturoyo, Kec. Margoyoso, Kab. Pati tampak terkejut mendapat kabar gembira dari OPSHID, berulang kali mengucapkan terima kasih sembari meneteskan air mata. “Terima kasih mas, terima kasih,” katanya berulang-ulang sambil mengusap pipinya yang terlihat basah pada siang Kamis pekan lalu.
Menurut Khozin salah satu anggota tim mengatakan selama bershillaturrohmi dan menyampaikan kabar gembira pada para penerima  itu bukan hanya penerima rumah yang terkejut, pihak perangkat desa juga tak sedikit yang kaget. Mereka mengaku baru pertama ini ada organisasi memberikan program rumah secara gratis. Semula mereka juga tampak meragukannya. Beberapa pertanyaan seperti  bagaimana  mengenai tenaga kerja, konsumsi  sering ditanyakan oleh pihak pemerintah desa sekalipun sudah dijelaskan oleh OPSHID bahwa semua kebutuhan  itu akan dicukupi oleh OPSHID.
“Ini nanti untuk tenaga kerjanya  gimana?” Konsumsinya"? Terus danya kalau kurang."Takutnya nanti membebani penerima rumah," kisah Khozin menirukan pertanyaan-pertanyaan para perangkat desa.  Semua itu dijawab dengan tegas bahwa semua kebutuhan dalam proses pembangunan itu semua akan dicukupi oleh OPSHID. "Jenengan mboten usah-repot-repot, jenengan tetap beraktifitas seperti biasa, semua kita yang menanggung," jelasnya berulang kali.  Setelah mendapati penerangan ini tampak perangkat desa yang awalnya terlihat ragu itu lantas manggut-manggut. Kemudian setelah mereka memahami dengan tegas para perangkat desa memberikan penerangan kepada masyarakatnya, khususnya para penerima rumah berkat tersebut.
Pada Hari Senin 28 Syawal 1435 H/25 Agustus 2014 telah dilakukan batu pertama di 10 lokasi pembangunan Rumah Layak Huni Shiddiqiyyah di Kabupaten Tuban dan kemudian menyusul pada hari Rabu, 10 September 2014 / 15 Dzulqo’dah 1435 H, telah dilaksanakan peletakan batu pertama di 10 lokasi pembangunan Rumah Layak Huni Shiddiqiyyah di Kabupaten Pati. Masih akan segera dilakukan 5 unit RLHS di Kabupaten Pati, dan 15 unit RLHS di kabupaten Demak.
 

Comments (3)

admin's picture

This is my comment!!!

admin's picture

This is reply to a comment!

admin's picture

This is another comment!!!