Menjalankan Konstitusi Sampai Ke Pelosok Negeri

Undang-undang mempunyai peraturan, tuntunan menjalankan kehidupan bangsa. Tapi belum semuanya mempunyai fakta, termasuk yang tertera dalam pasal 7 ayat 2 mengenai hak rakyat atas penghidupan yang layak. Khususnya para penduduk di desa terpencil seperti kehidupan rakyat Dsn. Nampu, Ds. Pojok Klitih, Kec. Plandaan, Jombang. Sejak sebelum bangsa Indonesia merdeka sampai memiliki negara berdaulat, memiliki undang-undang dasar taraf kehidupannya stagnan. Ceblek, nenek kelahiran 1938 sudah menjadi buruh tani sejak masa mudanya. Upahnya saat ia masih muda sejumlah Rp 500 per hari, nasibnya masih juga sama saat ia menikah, memiliki anak bernama Sila, yang juga hanya bisa menyambung garis penghasilan ibunya dengan men- jadi buruh tani, hingga generasi ketiga, Andriani menjadi buru tani juga dengan penghasilan Rp 25 ribu perhari. “Kalau perempuan ya seperti ini, tanam, matun, ngarit, sejak saya kecil dulu. Kalau sore mencarikan rumput untuk sapi,” kata nenek berusia 78 tahun itu dalam Bahasa Jawa. Nampu berpenghuni 34 KK, tidak semua penduduk- nya memiliki sawah karena lahan dusun itu memang tak luas, terletak di daerah yang melintasi hutan jati dan terpisah oleh sungai dari dusun-dusun lain di Ds. Klitih, Plandaan, Jombang. Kalau tidak menjadi buruh tani, pilihan pekerjaan lain adalah mendongkel kayu di hutan. Suami Sila yang menghidupi keluarganya dengan cara ini mengaku sebenarnya pekerjaan itu sulit resikonya pun tinggi. Jika ketahuan, bisa dipenjarakan.” Kalau ada operasi ya tidak bisa kerja karena bisa dipenjara. Orang sini sudah banyak yang dipenjara, dulu hukumannya 9 bulan penjara sekarang satu tahun setengah,” ceritanya.

Tak hanya dibui, sepeda juga ikut disita. Padahal hasil dongkel kayu itu juga tak mahal, 70-80 ribu belum dikurangi bensin 2 liter dan pungli masuk hutan. Pilihan lain dari pekerjaan itu menjadi buruh tani, tapi cukup kah Rp 25 ribu untuk menghidupi ibu, istri, anak dan cucu dalam sehari? Akibatnya hidup penduduk Nampu serba terbatas. Makan seadanya dari hasil tanaman masing-masing seperti dikatakan Julika. “Daun pepaya, nangka muda, daun talas, daun singkong, daun ketela. Sambel korek. Sudah ga usah ikan,” katanya. Ia mengaku sejak jaman neneknya dulu seperti itulah kehidupan di Dusun Nampu hingga kini. . Edisi Pangruwatan Opshid Jelajah Desa untuk Indonesia Raya Rabu 22 - Kamis 23 Shofar 1438H (23-24/11/16) mengunjungi warga Dusun Nampu kali ketiga dalam misi pangruwatan. Pangruwatan adalah sebuah divisi baru dalam Departemen Jelajah Desa untuk merawat para penduduk dusun-dusun terpencil yang telah dikunjungi pada Jelajah Desa sebelum-sebelumnya, dulunya kegiatan ini biasa disebut Jelajah Desa Ekstra. Berdasarkan sebuah makna filosofi sastra Jawa “Sastro Jendro Hayuningrat Pangruwating Bawono Langgeng” dan mengingat pentingnya merawat saudara fakir miskin di pelosok negeri, kegiatan perawatan ini dikhususkan pada satu divisi, Divisi Pangruwatan. Dalam Jelajah Desa kali keempat di Dsn. Nampu itu,terdapat nilai lebih paket santunan dan Pasar Murah Notok Dhok (PMND). Uang santunan bertambah menjadi Rp 320 ribu, sedangkan PMND dari semula mengganti sembako senilai Rp 292.250 ribu dengan uang Rp 17 ribu, dalam edisi pangruwatan dapat dibawa cuma- cuma. Edisi pangruwatan itu bukan hanya memberikan nilai lebih untuk pasar murah dan santunan.

Beberapa warga Dusun Nampu yang tak memiliki rumah yang layak, hidup sebatangkara juga diberi perhatian lebih, diantaranya Mbah Awiyah dan Bu Slamet dan Pak Siman. Renovasi Rumah Secara bertahap, pelayanan Opshid untuk para fakir miskin terus ditingkatkan. Mulai dari santunan, terapi kesehatan secara medis dan teknologi resonansi metafakta, pasar murah seharga Rp 17 ribu, meningkat pada edisi pangruwatan dengan menyampaikan pasar murah itu secara gratis, sampai merenovasi bahkan membangunkan rumah.

Ketua Umum Opshid Moch. Subchi Azal Rabu siang itu mengunjungi Mbah Awiyah, nenek yang hidup sendiri di rumahnya. Awiyah saat itu tidak dapat berkumpul di rumah Kadus Nampu lantaran kondisi fisiknya yang sudah lemah. Ia hidup sendiri, tiga anaknya sudah hidup masing-masing. Ada cucunya yang bekerja di Surabaya, tapi hanya tiga bulan sekali datang sekaligus menjenguk cicitnya yang sekolah di tetangga desa. “Kadang ngasih seratus, kadang ya ga ngasih,” cerita Mbah Awiyah. Untuk makan nenek yang tak ingat lagi berapa usianya itu biasanya memasak sendiri, cukup nasi dan sambal dari memetik cabe di sebelah rumahnya. Tidak ada kamar mandi di rumahnya, sehingga dengan kaki lemah, Mbah Wiyah harus berjalan ke sungai. Meski hujan, meski sungai pasang. Tak ada pilihan lain. Mas Bechi memohon ijin masuk ke dalam rumah untuk melihat kondisi rumah 5x4 m2 itu. Berlanjut ke rumah Slamet, perempuan paruh baya yang juga tinggal sendiri di rumah waris orang tuanya. Untuk Slamet ini direncanakan pembangunan rumah di tanah waris depan rumah yang kini didiaminya. Atas pendalaman Divisi Pangruwatan bersama Ketua Umum Opshid siang itu disetujui pembangunan rumah untuk Slamet. Selain itu Siman yang juga hidup sebatang kara di rumah kayunya yang rapuh pun mendapat perhatian lebih untuk dibangunkan rumah layak huni untuknya.