Mengawal dengan Rescue Kesehatan

Kendaraan antar jemput bagi masyarakat miskin yang membutuhkan menjadi kabar gembira bagi mereka yang selama ini tak berani berobat ke rumah sakit ketika sakit.
Khusus untuk pelayanan kesehatan masyarakat miskin di dusun-dusun terpencil, Opshid memberikan pelayanan siaga dengan armada rescue yang siap mengantar jemput pasien secara gratis mulai biaya transportasi sampai biaya pengobatan. Pelayanan ini telah dirasakan masyarakat Desa Cepit, Dusun Nampu dan Dusun Rapah Ombo. Melihat buruknya pelayanan kesehatan penduduk yang terisolir yang bahkan penduduknya sampai bertahun-tahun tidak dapat mengobatkan penyakitnya hingga titik kronis, kami mengoptimalkan pelayanan kesehatan. Selain dengan santunan pengobatan gratis dan terapi kesehatan menggunakan tekhnologi resonansi metafakta tongkat ST di setiap program Jelajah Desa, kami sampaikan juga jika warga dusun membutuhkan pengobatan atau para ibu akan melahirkan, armada rescue dapat seketika itu juga diluncurkan. Baru-baru ini kami juga memasang alat komunikasi HT di Dsn. Rapah Ombo  yang tersambung dengan Tim Kesehatan Opshid untuk dapat terhubung langsung di saat dibutuhkan.
Rapah Ombo memang memprihatinkan masalah pelayanan kesehatan. Dari cerita ibu Suwati salah satu warga, pernah terjadi pada tengah malam ibu yang hendak melahirkan digotong warga desa bergantian menerobos jalan setapak di tengah hutan yang berlumpur pekat. Karena cukup jauh, ibu itu berkali-kali pingsan. Dalam kondisi itu bidan yang ada di desa paling dekat, hanya melayani pasien yang datang. Sungguh ironis. Rata-rata bantuan pembangunan Polindes belum sampai menyentuh pelosok terpencil. Mereka harus berjuang menerobos akses jalan yang berat untuk sampai ke desa dimana terdapat klinik pengobatan. Dari Dsn. Rapah Ombo ke Ds. Pojok Klitih, Plandaan 12 Km, dari Dsn. Nampu ke Desa Pojok Klitih 6 Km, dari Dsn. Bunten ke Ds. Kedungdendeng 5 Km, dari Dsn. Tretes ke Ds. Pragelan 3 Km, dari Dsn. Kalimas ke Ds. Bareng 5 Km. Semuanya dengan kondisi jalan belum dibangun sehingga mengharuskan berjalan kaki dengan durasi 2 jam per 3 Km.
Bisa dibayangkan jika warga dusun dalam kondisi gawat darurat tidak segera memperoleh pertolongan. Seperti terjadi di Dsn. Growok, diceritakan Kadus Growok Jiyatno, seorang ibu yang tidak mendapatkan pertolongan tepat waktu harus meregang nyawa. Sudah memakan korban, pembangunan Polindes belum juga sampai di sana. Hal demikian juga terjadi di hampir semua dusun terpencil yang kami kunjungi.
Ada lagi, Suwarni yang menderita sakit mata selama satu tahun terakhir mengaku tidak ada biaya untuk berobat padahal saat itu jika ada biaya pengobatan Rp 2 juta, matanya tidak akan meradang hingga berdarah campur nanah. Selain biaya, Suwarni juga enggan berobat karena beratnya jalan yang harus ditempuh.
Syukurlah pertolongan Alloh SWT lewat program Jelajah Desa Suwarni dipertemukan dengan kami. Sehari setelah Jelajah Desa, Kadus Rapah Ombo Padi menghubungi kami untuk membantu salah seorang warganya yang sakit mata, dari matanya keluar darah dan nanah. Dengan armada rescue kami lantas menjemput dan mengantar Suwarni menuju klinik asy-Syifa, kemudian diobatkan di klinik mata di Mojoagung Jombang, namun keadaan yang sudah parah itu mengharuskan Suwarni dioperasi mata sehingga kami mengantarkannya menuju Eye Center di Surabaya. 

Di sana, Dr. Eric yang menangani, membersihkan serta mengangkat seluruh nanah dan darah dari dalam bola mata lalu diobati. Operasi ini memang tidak dapat mengembalikan penglihatan mata yang telah hilang sejak terinfeksi tapi mencegah penyebaran kuman. Menurut Dr. Eric, jika hal itu tak segera dilakukan akibatnya bisa sampai mengancam nyawa karena menyebarnya kuman ke seluruh tubuh termasuk ke otak, melalui pembuluh darah. Layanan kesehatan ini seratus persen difasilitasi Opshid secara gratis. Karena pembuktian itulah warga Dusun Rapah Ombo kini merasa tak asing dan tak segan lagi menghubungi kami jika sewaktu-waktu membutuhkan pelayanan kesehatan.