Kawasan Historis tapi Tersisih

Sebagian besar dusun terpencil yang kami jelajahi ternyata adalah kawasan tempat pejuang kebangsaan dahulu berada. Ketabahan rakyat kecil di dusun terpencil memang sangat mengagumkan, meski sepenggal kisah melegenda tentang sesepuh mereka yang notabene adalah pejuang kemerdekaan, tapi nilai historis itu justru kini terlupakan. Tidak dijadikan perhatian dan prioritas dari segi pembangunan oleh pemerintah setempat, khususnya akses jalan menuju dusun.
Kurangnya perhatian pejabat pemerintah terhadap dusun-dusun yang justru di sana dahulu hidup pahlawan bangsa antara lain terjadi di Dsn. Rapah Ombo, Kec. Plandaan, Kab. Jombang. Rapah Ombo dahulu adalah sebuah tanah luas, puluhan hektar, hadiah dari Pahlawan Brigdjend Kretarto Komandan Resimen Divisi VI/Narotama untuk pejuang sipil yang terlibat dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia, tapi di era orde baru, tanah hadiah itu direbut perhutani.
Dari cerita para sesepuh desa yang kami temui di sela-sela Jelajah Desa berlangsung siang itu, kata mereka dulu penghuni Dusun Rapah Ombo hanya 5 KK, lahan yang diolah untuk mata pencaharian pun sangat luasnya hingga puluhan hektar, mengingat juga arti Rapah Ombo dalam Bahasa Indonesia berarti; menginjak sawah yang luas. Bisa dibilang itu adalah buah yang dituai atas jerih payah para pejuang. Namun sayangnya kedamaian dan kenikmatan itu tidak sampai kepada generasi berikutnya. Seorang pejabat perhutani pada era orde lama sekoyong-koyong datang merampok hak vital para pejuang dengan mengambil paksa tanah milik mereka. Surat-surat resmi dari pemerintah yang telah dibawa para pejuang diambil dan dihilangkan oleh pihak perhutani saat itu, sehingga seolah-olah perjanjian hadiah tanah Rapah Ombo hanyalah klaim para pejuang saja tanpa didasari bukti apapun.
Peristiwa pilu itu terjadi pada tahun 1966. Pada saat itu perhutani dibawah kendali Menteri Kehutanan Soedjarwo. Para pejuang itu ditangkap dijebloskan ke penjara Genteng Kali Surabaya sementara istri meraka yang tinggal di rumah dipaksa menandatangani surat yang mereka sendiri pun tidak tahu apa isi dan tujuan surat itu. Mereka dilanda ketakutan dan hanya ingin selamat, sehingga teken persetujuan pengalihan hak milik tanah atas nama perhutani pun didapat. Maka tinggallah tanah seluas 7 hektar tersisa.
Soedjarwo adalah Menteri Kehutanan Republik Indonesia yang menjabat kala itu, Soedjarwo lahir di Wonogiri, Jawa Tengah 15 April 1922, meninggal di Singapura pada 12 Januari 2004 di usia 81 tahun. Soedjarwo menjabat periode 1964-1966 dan 1983-1988. Ia menjadi menteri kehutanan pertama pada Kabinet Dwikora I hingga dilikuidasi pada masa awal pemerintahan sehingga ia hanya menjabat sebagai dirjen kehutanan dibawah departemen pertanian. Kemudian pada kabinet pembangunan IV departemen kehutanan diaktifkan kembali dan Soedjarwo diangkat kembali sebagai Menteri Kehutanan.
Sisa-sisa perjuangan juga masih tampak di Dkh. Tretes, Ds. Pragelan, Kec. Gondang, Kab. Bojonegoro. Di dusun yang juga tidak memiliki akses jalan yang layak itu seorang tokoh yang dipercaya sebagai pejuang kemerdekaan dimakamkan. Cerita perjuangan masih sangat melegenda bahkan makam Mbah Dipo itu masih dikunjungi warga sekitar hingga kini.
"Mestinya perlu bantuan khusus karena tingkat perjuangannya tinggi, artinya kalau ada perjuangan kan juga pasti membantu adanya desa dahulu," harap Sudarto Kades Pragelan.
Pragelan sendiri adalah desa bernilai historis di Kec. Gondang, Bojonegoro. Dari legenda turun-temurun diyakini bahwa Pragelan yang memiliki arti pagar dahulu adalah tempat para sesepuh yang juga merupakan pejuang kemerdekaan Indonesia membentengi diri. Kisah perjuangan Mbah Dipo ini diperkirakan masyarakat setempat sejaman dengan Pangeran Diponegoro. Hal ini diidentifikasi dari cerita yang berkembang bahwa Mbah Dipo bukan penduduk asal, ia membuka lahan untuk tempat persembunyian dari kejaran penjajah.
Cerita tersebut sangat dimungkinkan oleh karena ketika Perang Diponegoro yang dikenal dengan Perang Jawa, terjadi pada tahun 1825-1830 semua pasukan perang Pangeran Diponegoro hijrah kepelosok-pelosok daerah, apalagi setelah Pangeran Diponegoro ditangkap dengan cara licik oleh penjajah dan dibuang ke pengasingan.
Pencapaian titik-titik kecil yang dahulu merupakan daerah berjasa tampat berlindung para pejuang bangsa kami dapat dengan menjelajah desa dimana hampir semua dusun yang kami kunjungi memiliki nilai historis serupa. Jika tidak, cara apa lagi yang dapat menyentuh langsung mereka yang kini tersisih. Mereka yang selalu hidup digantung janji para pemimpin negeri.